Arti Sebuah Kehilangan
May 12th, 2007 by ch3k1Diselasa malam yang sunyi, aku dirumah sendiri yang memang telah 3 bulan sendiri, karena sang kakak yang telah dibawa pergi oleh orang yang telah berikrar untuk menafkahi. Untuk menghilangkan kepenatan kuambil remote dan kupencet angka 4 dan yang muncul sebuah film, yang disudut kanan atas terdapat sebuah logo salah satu stasiun TV swasta, Trans TV.
Disaat sedang terhanyut oleh kisah yang digambarkan sang sutradara, tiba-tiba seolah terdengar suara yang berbisik pelan “ motormu dicuri orang!”. Seperti tersentak aku langsung teringat bahwa motorku belum aku masukan ke garasi. Dan aku buru-buru mengecek kebenaran bisikan pelan yang entah datangnya dari mana.
Aku bagai tersambar petir disiang bolong, ketika kulihat ternyata motorku sudah tidak ada. Sekujur tubuhku terasa tak bertulang.
Aku tidak bisa menerima keadaan ini, tidak terima hasil jerih payahku diambil orang begitu saja. Akupun langsung mengitari daerah sekitar, siapa tahu simaling belum pergi jauh. Dan setelah kucari dan tak ketemu, aku langsung memberi tahu semua teman-teman (yang kuanggap bisa membantu) dan merekapun aku sebar ke penjuru kota untuk mencari keberadaan sepeda motor sekaligus menemukan siapa pelakunya.
Setelah beberapa jam tanpa hasil, aku berinisiatif untuk menempuh jalan alternatif dengan cara yang sedikit berbau supranatural. Dan akupun mendatangi kediaman seseorang yang direkomendasikan oleh temanku, yang katanya dia “orang pintar”.
Singkat cerita aku melaksanakan apa yang disarankan untuk aku laksanakan jika ingin motorku kembali. Akupun melaksanakannya dan ternyata hasilnyapun tak ada. Aku malah semakin kehilangan beberapa puluh ribu rupiah untuk mengisi kotak kas yang bertengger dipintu keluar rumah orang yang dianggap “pintar” itu (walau orang yang mengganggap pintar tidak pernah tahu beberapa nilai matematika yang didapat saat dibangku sekolah, hayah…;)) )
Aku pulang dengan keputusasaan layaknya perasaan sang pangeran yang kalah dalam pertempuran perebutan putri kerajaan. Sesampai dirumah aku langsung protes kepada Tuhan, mengapa ini terjadi padaku, mengapa hasil jerih payah yang kucoba peroleh dengan cara yang halal diambil begitu saja. Semakin aku protes semakin berat pula aku melepaskan barang yang memang telah lepas dari tanganku.
Akhirnya akupun mencoba untuk menenangkan diri dan mengikhlaskannya. Setelah beberapa lama kucoba untuk tenang ( walau tak ada orang yang melontarkan kata-kata bijak untuk membantuku menemukan ketenangan) akupun akhirnya bisa menguasai emosi yang tadinya meluap-luap bagai kawah belerang dipegunungan dieng.
Dan akhirnya sampailah aku pada titik dimana aku mengucap dalam hati : “semua materi yang ada padaku hanyalah titipan dari Sang Khalik, jadi mengapa aku harus merebutnya jika sang pemilik memintanya kembali”.
Dan akhirnya aku sampai pada kata IKHLAS.
Sepersekian detik setelah itu akupun menemukan ketenangan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, dan pada saat itu juga aku terengah-engah dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuh dan…. terlepaslah aku dari bunga tidur yang tadi menghiasi tidur tak nyenyakku. (he he he….)
Begitu tersadar akupun langsung berlari keluar rumah untuk melihat motorku yang memang masih berada diluar rumah. Alhamdulillah…. Ternyata motorku masih ada dan aku langsung bergegas memasukkannya ke garasi. Dan kemudian mematikan TV yang ternyata masih menyala saat aku tertidur diatas sofa.
Kehilangan….. kata yang tak asing bagi kita. Sebagian dari kita mungkin pernah kehilangan. Kehilangan rumah sewaktu gempa merangkul kita, kehilangan mobil yang baru kita beli disaat banjir memeluknya, kehilangan orang yang kita cintai disaat pendaratan disebuah bandara, atau kehilangan kekasih kita disaat kita tak berdaya.
Disaat kehilangan kita merasa lemas tak berdaya dan akal sehat kita hilang entah dimana. Ada beberapa orang yang dengan bijak menyikapinya sehingga dapat dengan mudah menerima dan melupakannya, tapi tak jarang diantara kita meronta tak kuasa menerima kenyaatan yang telah benar-benar nyata.
Kehilangan bukan berarti musnah begitu saja, kehilangan bisa berarti tersimpankan untuk kita suatu saat nanti, yang mungkin juga dengan kehilangan, hidup kita menjadi lebih baik kedepannya.
Mungkin benar apa yang ditulis oleh Kahlil Gibran :“ Kesedihan adalah kebahagiaan yang tak terungkapkan”.
Marilah kita menyikapi kehilangan dengan sikap yang lebih bijak, dengan pemahaman yang lebih luas. Karena siapapun anda suatu saat nanti akan kehilangan, dan hanya satu yang tidak akan hilang, yaitu rasa CINTA, bukan cinta terhadap sesuatu, bukan pula cinta kepada sesama, tetapi cinta kepada SANG PENCIPTA
Originally by
Cheki